LITOTRIPSI (ESWL)

Diposkan oleh Label: di

Assalamualaikum guys... okee langsung aja yaa dibaca materinya, kalau ada yang mau bertanya selow silahkan tulis dikolom komentar, atau yang mau belajar atau ada pertanyaan mendesak bisa hubungin author via email yaaa.. silahkan cek di menu email admin, semoga bermanfaat :)))

Ada baiknya sebelum BACA atau COPY PASTE, TINGGALKAN KOMENTAR dan SERTAKAN SUMBERNYA untuk semangat Nge-Blog :)
Salam IKATEMI - Bacalah dengan Bismillah 

LITOTRIPSI Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL)


Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai Litotripsi, khususnya teknologi Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy atau yang biasa disingkat (ESWL).

ESWL

1. Definisi dan Prinsip Dasar ESWL

​Litotripsi adalah prosedur medis yang dilakukan untuk menghancurkan batu di saluran kemih menggunakan gelombang kejut, sehingga serpihannya dapat keluar dari tubuh secara alami. 

ESWL merupakan terapi non-invasif, artinya tidak memerlukan pembedahan atau penyisipan alat ke dalam tubuh pasien. 
Etimologi: Extracorporeal berarti di luar tubuh, dan Lithotripsy berarti penghancuran batu. 
Cara Kerja: Alat (lithotripter) didekatkan ke permukaan tubuh. Gelombang kejut (shock wave) dikirimkan melalui cairan tubuh menuju target batu ginjal selama 30–60 menit. Gelombang ini memecah batu menjadi butiran kecil yang nantinya luruh bersama air seni melalui ureter. 


​2. Komponen Utama Alat ESWL

​Alat ESWL terdiri dari beberapa sistem vital untuk memastikan akurasi dan efektivitas penghancuran batu:

  • Sumber Gelombang Kejut (Shock Wave Head): Terdiri dari komponen yang menghasilkan energi mekanik. Untuk akurasi pada ginjal/ureter kanan dan kiri, biasanya digunakan dua head atau posisi pasien yang disesuaikan. 
  • Sistem Fokus: Digunakan untuk memusatkan energi tepat pada batu agar tidak merusak jaringan sehat. Terdapat tiga teknologi utama: 
  • Elektromagnetik (EMAS): Menggunakan lensa akustik.
  • Piezoelektrik: Menggunakan material yang bereaksi terhadap listrik (terfokus sendiri).
  • Spark-Gap: Menggunakan percikan listrik dalam air (teknologi pertama).
  • Medium Coupling: Berupa air atau gelatin yang menghubungkan alat dengan kulit pasien. Medium ini dipilih karena sifat akustiknya mirip dengan jaringan tubuh manusia, sehingga meminimalkan hilangnya energi gelombang. 
  • Meja Pasien: Dapat digerakkan secara presisi (koordinat X, Y, Z) dengan pergerakan sekecil 1 mm menggunakan kontrol mikroprosesor untuk memosisikan batu tepat di titik tembak (isocenter). 
  • Unit Monitoring (Imaging): Menggunakan Sinar-X atau USG untuk mendeteksi lokasi batu secara real-time sebelum dan selama penembakan.

​3. Spesifikasi Pesawat Siemens Lithostar

​Dokumen secara spesifik menyebutkan model Siemens Lithostar yang memiliki fitur unggulan:
  • Sistem Biplane: Menggunakan dua tabung Sinar-X yang membentuk sudut 380 (mungkin maksud teks adalah 38^\circ atau titik temu biplane) untuk menentukan titik potong yang disebut Isocenter. 
  • ​Water Treatment System: Berfungsi untuk mendinginkan alat, menjaga tekanan air pada shock wave head, dan sebagai mediator gelombang (degassing). 
  • Digital Radiography (DR): Memungkinkan dokumentasi hasil tindakan secara digital atau melalui film Sinar-X. 

4. Indikasi, Risiko, dan Pasca Tindakan

  • Ukuran Batu dan Syarat Pasien
​ESWL modern dapat menghancurkan batu hingga ukuran 7 cm, bahkan dalam kasus tertentu hingga 10 cm (biasanya memerlukan bantuan stent atau selang kecil untuk melancarkan pembuangan serpihan). Syarat pasien meliputi: 
​Fungsi ginjal harus baik dan tidak ada sumbatan di bawah lokasi batu. 
Kontraindikasi: Tidak untuk ibu hamil, penderita gangguan pembekuan darah, penderita diabetes/darah tinggi yang tidak terkontrol, obesitas, serta tidak ditujukan untuk anak-anak. 
  • Risiko Prosedur
​Meskipun non-invasif, terdapat beberapa risiko, antara lain: 
  • ​Kerusakan atau penyempitan uretra/kandung kemih.
  • ​Pembengkakan saluran kencing yang memerlukan kateter.
  • ​Infeksi bakteri ke aliran darah (septicemia).
  • ​Pendarahan (urine berwarna kemerahan) dan rasa nyeri saat kencing.
  • ​Perawatan Pasca Tindakan
  • ​Pasien biasanya boleh langsung pulang (rawat jalan). 
  • ​Dianjurkan istirahat total (bed rest) selama 24 jam dan baru boleh beraktivitas normal setelahnya. 

​5. Pemeliharaan Alat (Standard Maintenance)

​Untuk menjaga fungsi alat, diperlukan prosedur perawatan rutin seperti: 
  • ​Penggantian air dan pembersihan tranduser secara berkala.
  • ​Pemeriksaan fungsi tombol kontrol, sistem Sinar-X, USG, serta meja pasien.
  • ​Penggantian membran coupling.

SUMBER : Presentasi Kuliah Radiografi - Poltekkes Kemenkes Jakarta II Angkatan 2014

Post a Comment

Back to Top